Pembelian Sukhoi Su-35 terus berlanjut dengan penjadwalan ulang

Duniaku - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan Rusia dan Indonesia akan kembali melakukan annual meeting untuk membahas masalah keamanan. Pertemuan ini merupakan pertemuan rutin yang dilaksanakan kedua negara dan dilakukan satu tahun sekali.

“Ini dilaksanakan tiap tahun, ini yang kelima di Rusia, nanti yang keenam di Indonesia kita sebagai host. Saya kira itu satu annual meeting antara Polhukam dengan pihak Rusia yang diwakili oleh Dewan Keamanan Nasional di sana,” ujar Menko Polhukam Wiranto di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Minggu lalu, Menko Polhukam bersama dengan Dewan Keamanan Federasi Rusia melakukan Forum Konsultasi Bilateral dan sepakat untuk memperkuat kerjasama kedua negara dalam bidang keamanan, counter terorrism, keamanan siber, serta penanggulangan bencana.

“Saya kemarin ke sana melakukan satu penjajakan hal-hal apa yang secara serius dapat dibicarakan pada saat kita masuk ke konferensi ASEAN, poinnya cukup banyak tapi saya kemarin hanya terbatas masalah security bukan masalah ekonomi, sehingga saya juga lebih banyak berbicara bagaimana kerjasama untuk melawan terorisme, kerjasama bagaimana kita bisa tukar menukar informasi tentang kegiatan terorisme di dunia, lalu juga membicarakan bagaimana menyikapi perkembangan kawasan yang masih dilanda konflik dan sebagainya,” kata Menko Polhukam Wiranto.

Pertemuan tersebut juga membahas sedikit mengenai pesawat sukhoi. Dikatakan bahwa pemerintah Indonesia akan tetap melanjutkan pembelian pesawat sukhoi.

“Sedikit-sedikit masalah pembelian sukhoi kita tetap lanjutan dengan satu penjadwalan ulang tentang jangka waktunya, tentang sistem pembayarannya yang tadinya cash sekarang kita ajukan adanya imbal dagang sebagian. Ini sudah setuju tinggal masalah teknis saja,” kata Menko Polhukam Wiranto, dilansir di layanan pers Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

Sementara dikutip dari Bisnis.com mengatakan bahwa daftar komunitas imbal beli yang diajukan tidak kunjung disetujui oleh Rusia yang mengancam keterlambatan realisasi pembelian pesawat tempur Su-35. Portal itu mengutip pernyataan dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan.

Disebutkan, setidaknya ada 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia, di antaranya berupa minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi.

“Kami sudah ajukan daftar komoditas dan draf tata kerja kelompok kepada pihak Rusia. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian dari Rusia apakah mereka menerima komoditas yang kita ajukan apa tidak?” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (13/2/2019).

Menurutnya, selama ini Pemerintah RI terus menunggu kesediaan dari Rusia terkait dengan komoditas yang ditawarkan itu. Dia mengklaim, komoditas yang diajukan oleh Indonesia telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar di Rusia.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto mengatakan, kontrak pembelian seharusnya sudah efektif pada Agustus 2018, sehingga dua dari 11 pesawat yang dipesan pemerintah bisa masuk Indonesia pada tahun ini.

Namun, lanjutnya, dengan masih terjadinya proses pembahasan mengenai komoditas yang dijadikan imbal dagang antara Indonesia dengan Rusia, target tersebut terancam molor.

“Urusan mengenai spesifikasi pesawat sudah selesai di kami. Kalau di Kementerian Perdagangan (Kemendag) sampai saat ini masih tertahan dalam hal kesepakatan komoditas yang dijadikan imbal beli, maka besar kemungkinan Sukhoi yang kami pesan terlambat datang,” jelasnya, Rabu (13/2).

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info