Korea Selatan mulai membuat bagian pertama untuk prototipe pesawat tempur KF-X

Duniaku - Pada tanggal 14 Februari, perusahaan kedirgantaraan terbesar Korea Selatan mengadakan upacara untuk merayakan dimulainya produksi bulkhead pertama, yang merupakan bagian utama dari pesawat Korea Fighter Xperiment (KFX).

"Bulkhead adalah struktur yang dirancang untuk mencegah pesawat dari cacat karena tekanan yang dihasilkan oleh penerbangan berkecepatan tinggi", perusahaan kedirgantaraan mengumumkan Kamis.

Seorang perwakilan KAI mengatakan bahwa prototipe pertama dari pesawat tempur multirole canggih KF-X, disebut Pesawat tempur generasi 4,5, akan selesai pada April 2021.

Saat ini, pengembangan KF-X adalah sekitar 15% dari total gambar desain, dan 80% atau lebih diharapkan akan selesai setelah September, ketika Critical Design Review diselesaikan.  KF-X melewati tinjauan persyaratan sistem dan tinjauan fungsi sistem pada 2016. Pengembangan sistem untuk pesawat dimulai pada Desember 2015.

Program KF-X bertujuan untuk memproduksi sekitar 120 jet tempur canggih untuk menggantikan pesawat tempur F-4 dan F-5 Angkatan Udara Korsel yang menua.

Proyek KF-X diharapkan memainkan peran penting dalam meningkatkan industri penerbangan Korea dalam hal akumulasi teknologi dan penciptaan lapangan kerja.

Proyek KF-X saat ini melibatkan total 112 lembaga - 16 universitas domestik, 11 lembaga penelitian dan 85 perusahaan. Ketika pengembangan prototipe berjalan lancar, 35 lembaga tambahan akan bergabung dengan proyek.

KF-X adalah pesawat tempur multirole canggih di bawah pengembangan program Korea Selatan dan Indonesia.

Pada bulan Desember 2018 Pemerintah Indonesia telah membayar tunggakan pengembangan dan pembangunan pesawat tempur KFX ke Korea Selatan (Korsel). Total tunggakan yang harus dibayarkan mencapai Rp 1,4 triliun.

"Oh yah sudah. Tunggakan kita selama 2017 sudah dibayarkan sekitar Rp 1,4 triliun," kata Sekjen Kementerian Pertahanan (Kemhan)  Marsdya TNI Hadiyan Sumintaatmadja di Jakarta, Jumat (18/1), seperti dikutip dari Beritasatu.

Tahun 2018 lalu, Indonesia mengajukan renegosiasi ulang.‎ Beberapa poin yang direnegosi ulang adalah masalah pembiayaan, ongkos produksi, pemasaran, hingga alih teknologi hingga hak kekayaan intelektual. Renegosiasi berlangsung dalam satu tahun dan ditargetkan selesai pada pertengahan 2019.

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info