Pernah di embargo AS Indonesia tetap memerlukan Su-35

Duniaku - Perwakilan resmi Angkatan Udara Indonesia Novyan Samyoga mengatakan tentang ancaman mengganggu kontrak untuk pembelian Su-35 Rusia karena kemungkinan sanksi AS, mengutip portal Jane, dalam pameran Indo Defence 2018.

Indonesia telah menandatangani kontrak untuk pengadaan 11 unit jet tempur Su-35 pada bulan Februari tahun ini atau hanya beberapa bulan setelah AS mengesahkan CAATSA.

Menurut Samyoga, meskipun kontrak telah ditandatangani, Indonesia tidak akan memiliki pilihan lain untuk mengakhiri kesepakatan jika pemerintah AS memperkenalkan sanksi keras terhadap Indonesia.

Pemerintah AS memberlakukan sanksi terhadap Indonesia mulai tahun 1990-an hingga 2005 sebagai akibat dari tuduhan pelanggaran hak asasi manusia militer Indonesia di Timor Timur (sekarang bernama Timor Leste).

Sanksi berupa larangan membeli peralatan militer AS sangat merugikan TNI-AU, karena berpengaruh pada nasib komponen armada pesawat buatan AS seperti pesawat F-16 dan C-130 Hercules.

"Kami perlu mengoperasikan kombinasi pesawat dari timur dan barat," kata Samyoga. "Politik tidak pasti, dan kami butuh keseimbangan karena jika kami memiliki masalah dengan barat kami dapat menggunakan pesawat yang dibuat di timur. Mereka telah menjatuhkan sanksi kepada kami sebelumnya, jadi kami tahu kami membutuhkan keseimbangan itu."

Situasi kontrak

Sebelumnya, media melaporkan bahwa pemenuhan kontrak yang ditandatangani pada awal tahun 2019 untuk pasokan sebelas Su-35 ke Indonesia ditunda karena kemungkinan sanksi yang mungkin dilakukan AS dalam kerangka UU CAATSA.

Namun, Menteri Pertahanan Indonesia, Riamizard Ryachudu, mengatakan bulan lalu bahwa Indonesia tidak berniat membatalkan pembelian pesawat tempur Rusia karena tekanan AS. Dia mencatat bahwa pihak-pihak telah mulai menerapkan kontrak, tetapi Kementerian Pertahanan Indonesia perlu menyelesaikan beberapa masalah internal terkait dengan pembayaran. Menhan juga menekankan bahwa militer Indonesia menginginkan untuk mendapatkan pesawat tempur "segera."

Rostec juga mencatat bahwa kontrak itu tidak ditunda. Perusahaan itu mengatakan bahwa Indonesia hanya perlu menyelesaikan "beberapa masalah teknis."

Berita terkait

Reaksi:

BERITA TERBARU:

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Show Parser Hide Parser
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info