Media: Pembelian pesawat tempur Su-35 Indonesia tertunda karena kemungkinan sanksi AS‍

Duniaku - Pelaksanaan kontrak antara Rusia-Indonesia untuk pembelian 11 pesawat tempur Su-35 tertunda karena kemungkinan sanksi AS, dilansir surat kabar Kommersant, mengutip dua manajer utama perusahaan pertahanan dan sumber yang dekat dengan pemerintahan Rusia.

Menurut surat kabar itu, langkah-langkah ketat yang siap diberlakukan AS dalam kerangka Undang-Undang CAATSA telah berpengaruh pada waktu pengiriman Su-35. "AS belum memberikan jaminan tidak menerapkan tindakan pembatasan pada Indonesia," tulis surat kabar itu.

Pada saat yang sama, Kommersant mencatat bahwa kontrak untuk pasokan Su-35 mempertahankan kekuatan hukumnya.

Selain itu, menurut surat kabar itu, Rusia juga mengalami kesulitan. "Ketika menerapkan kontrak, itu direncanakan untuk menggunakan skema kredit, dana yang akan dialokasikan oleh salah satu bank komersial. Tapi ini penuh dengan konsekuensi serius baginya, karena di Amerika Serikat mereka menganggap pinjaman ini sebagai kerjasama dengan Rosoboronexport dan akan menjatuhkan sanksi terhadap bank," tulis surat kabar itu.

Salah satu pembicara dalam publikasi menyebut situasi itu "tidak menyenangkan, tetapi sama sekali tidak penting." "Kami selalu berhubungan dengan mitra Indonesia kami, mencari jalan keluar dari situasi," tambahnya.

Negosiasi panjang su-35 Indonesia

Negosiasi antara Indonesia dan Rusia dengan berbagai tingkat intensitas berlangsung selama tiga tahun: pada tahun 2015, militer Indonesia secara langsung menyatakan bahwa mereka memiliki instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo untuk membeli Su-35 untuk menggantikan jet tempur F-5 Tiger yang sudah ketinggalan zaman yang telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun.

Pada bulan September, Duta Besar Indonesia untuk Rusia Wahid Supriyadi mengatakan bahwa Indonesia mengharapkan untuk menerima Su-35 pertama pada bulan Oktober 2019.

Pada bulan Juni, ia mengatakan bahwa Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Rusia untuk membeli 11 pesawat Sukhoi terbaru, menyebut kesepakatan itu "sangat besar."

Sementara Direktur Kerjasama Internasional dan Kebijakan Regional Perusahaan Negara Rostec Viktor Kladov mengatakan bahwa Indonesia bisa membeli jet tempur Su-35 tambahan sambil mengalokasikan dana yang diperlukan dari anggaran negara.

Berita terkait

Reaksi:

BERITA TERBARU:

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Show Parser Hide Parser
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info