Israel memperketat embargo di Gaza, menghentikan pengiriman bahan bakar

Duniaku - Israel sekali lagi telah melarang masuknya gas dan bahan bakar ke Gaza karena rezim itu memberi tekanan lebih besar pada daerah kantong yang sudah dikepung di pantai itu dengan dalih protes layangan berapi oleh warga Palestina di sana.

Menteri pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, pada hari Rabu memerintahkan pembekuan semua pengiriman bahan bakar dan gas ke Gaza melalui penyeberangan Kerem Shalom, titik utama masuknya bantuan internasional ke strip, sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Lieberman mengklaim keputusan itu bertujuan untuk menghentikan para demonstran Palestina membakar balon dan menerbangkan mereka ke wilayah yang diduduki Israel.

"Kembalinya Kerem Shalom Crossing ke operasi penuh tergantung pada akhir total peluncuran balon dan bentrokan" di dekat pagar yang memisahkan Gaza dari tanah yang diduduki Israel, katanya di situs webnya.

Israel juga menghentikan aliran bahan bakar, gas dan barang-barang komersial ke Gaza pada bulan Juli, tetapi kemudian membatalkan langkah tersebut.

Layang-layang dan balon terbang telah menjadi mode perlawanan baru sejak warga Palestina memulai protes mingguan mereka di dekat perbatasan Gaza pada 30 Maret.

Protes memuncak pada tanggal 14 Mei, ketika sekitar 40.000 warga Gaza memprotes di sepanjang pagar pada hari yang sama ketika AS membuka kedutaannya di Yerusalem al-Quds yang di anggap sebuah langkah provokatif oleh Internasional.

Para penembak jitu dan pasukan khusus Israel telah menembak dan menewaskan hampir 130 pengunjuk rasa damai Palestina, yang memicu kecaman internasional atas penggunaan kekuatan yang tidak proporsional.

Para pejabat Israel telah mencoba untuk menempatkan putaran kriminal pada pemrotes, mengklaim bahwa layang-layang dan balon diluncurkan oleh Palestina telah membakar ribuan hektar lahan pertanian, hutan dan cagar alam di daerah-daerah sekitar Jalur Gaza.

Taktik mematikan Israel dalam menghadapi protes Jumat mingguan telah mengundang kecaman internasional.

Jalur Gaza telah berada di bawah pengepungan Israel sejak Juni 2007. Blokade tersebut telah menyebabkan penurunan standar hidup serta tingkat pengangguran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kemiskinan.

Di bawah blokade, Gaza, yang menampung sekitar dua juta orang Palestina, telah menderita krisis ekonomi dan kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa kondisi keseluruhan bisa membuat wilayah "tidak bisa dihuni" pada tahun 2020.

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info