Alutsista Rusia dan Jerman dulu dan kini

Moskva, Dimasa Perang Dunia I dan II, Jerman dikenal sebagai negara industri yang acap memunculkan mesin-mesin perang inovatif. Tapi sekarang Rusialah yang bisa dibilang secara konstan memproyesikan sejumlah mesin perang masa depan yang bisa merefolusi dunia kemiliteran.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, berbagai temuan kemiliteran Jerman paling "doyan" ditiru Amerika Serikat (AS), Inggris dan tentunya Rusia (dulu Uni Soviet). Mulai vergeltung 1 dan 2 (V-1 dan V-2) sebagai cikal bakal misil, hingga Messerschmitt Me-266 "Schwalbe" yang merupakan jet tempur pertama didunia.

Tapi jika dibandingkan dengan mesin-mesin perang yang dimiliki Negeri Beruang Merah dan Jerman saat ini, bisa dibilang bagai langit dan bumi. Disaat Rusia sibuk dengam priyek futuristik, seperti pesawat pembom pak-da dan proyek pembom drone laut, Jerman justru masih berkutat dengam sejumlah alutsista rongsokan.

Bicara soal bomber PAK-DA yang proyeknya diluncurkan 2009 lalu itu, bahkan dikatakan bakal rampung lebih cepat. Awalnua disebutkan, pesawat pembom generasi baru sebagai ganti tupolev Tu-160 dan Tu- 95M3 itu baru akan kelar pada 2025 atau 2030.Tapi Panglima Angkatan Udara Rusia, Mayor Jenderal Viktor Bondarev menyatakan, prototype pesawat PAK-DA sudah bisa mengudara pada tahun 2021, atau bahkan lebih cepat.

BACA JUGA senjata canggih rusia lainnya

"Pekerjaan terkait PAK-DA terus berjalan dan kecepatan pengembangannya memuaskan kami. Tantangannya muncul pada penyelesaian prototype yang akan diterbangkan pada tahun 2021. Tapi jika semuannya lancar, justru PAK-DA akan terbang lebih awal," papar Bondarev, dilansir dari Defence talk, jumat 29/1/2016.



Mengenai spesifikasi PAK-DA tidak didisain Manufaktur Tupolev Obyedinyonnya Aviastroitelnaya Korporatsiya itu, sebagai mana disain pesawat konvensiona. Disainnya hampir berbentuk segitiga dengan sayap yanh lebar.

Disain seperti ini disebuykan dapat mengurangi kemampuan radar untuk melacak pesawat yang punya kecepatan subsonic tersebut.

" Pesawat ini pada dasarnya berdisain berdisain baru dengan sistem pengintaian dan navigasi terbaru. Pesawat ini dilengkapi sistem komunikasi yang tercanggih dan kelengkapan perang elektronik, hingga membuat daya lacak radar terhadapnya sangat minim," timpal Komandan Range Aviation, Letjen Anatoly Zhiharev.

Tidak hanya AU, Angkatan Laut juga ingin punya persenjataan terbaru, terlepas dari canggihnya beberapa kapal selam, kapal perusak serta kapal penjelajah merekq yang ditakuti banyak Negara.

Kali ini, AL Rusia ingin menginvestasikan dana Pemerintah Federal Rusia terhadap Proyek kendaraan tanpa awak (drone) laut, sebagaimana yanh dikonfirmasi Wakil Panglima AL Rusia, Laksamana Madya Alexander Fedotenkov.

Fedotenkov menambahkan bahwa pihaknya ingin mengembang drone bawah laut yang juga bisa beroperasi didarat (amfibi). Bisa jadi ambisi AL Rusia yang satu ini terinspirasi dari drone Bluefin-21 mikik AS.

Tapi kapbikitas Bluefin-21 baru sebatas untuk pengintaian, riset dan pemberaihan ranjau laut. Sementara Rusia, ingin membuat Drone yang dilengkapi pula dengan senjata Elektronil anti kapal selam.

"Ketika (proyek Drone Rusia) itu disampaikan, maka persenjataan itu akan merevolusi angkatan laut," sebut pengamat militer Dave Majumdar.

Lantas bagaimana dengan Jerman ? Well, pesawat canggih dan tangguh saja mereka masih sangat minim ketersediaannya. Pada Desember 2015 lalu sebelum menyatakan diri bakal ikut operasi anti ISIS, Jerman disebutkan punya 66 jet tempur Panavia Tornado=tapi setengahnya dinyatakan tak layak terbang!

Belum lagi dengan laporan terbaru, diaman 6 Jet Panavia Tornado di Suriah, tak bisa terbang malam Hal itu karena masalah lampu dikokpit pesawat.

"Masalah pada peralatan, membuat militer Jerman berada dipersimpangan jalan dari kubu Sosial-Demokrat, Hans peter Bartels. Belum lagi mengingat jumlah pasukan darat mereka yang jauh lebih kecil, jika dibandingkan ketika Bundeswehr (Angkatan Perang Jerman) dibentuk tahun 1955 lalu. saat itu, kekuatan Bundeswehr mencapai 600 ribu personel. sekarang diperkirakan !77 ribu personel, dimana ratusan bahkan ribuan dianta mereka dikirim ke negara-negara lain, seperti Suriah (1200), Afganistan (890), serta Mali (500).

" Pasukan Jerman kelelahan. terlalu banyak kekurangan dalam militer Jerman," tambah Bartels yang mengeluhkan minimnya alokasi dana Pemerintah terhadap militer.

BERITA TERKAIT:

Advertisement:
Disqus Comments

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info